Wisata Sejarah di Yogyakarta Yang Akan Menambah Pengetahuan Anda

Jika kita berbicara mengenai Jogja, maka ada banyak hal yang bisa kita sebutkan. Sebagai salah satu destinasi tempat wisata di Indonesia, kota yang satu ini memang terkenal dengan tempat wisatanya. Banyak sekali destinasi tempat wisata di Jogja yang bisa kita kunjungi saat berlibur. Apalagi Jogja memiliki banyak sekali destinasi wisata yang seru. Kita bisa mengunjungi beragam jenis wisata, mulai dari wisata alam, wisata budaya, wisata kuliner hingga wisata belanja. Banyaknya ragam jenis wisata ini memang membuat nama kota jogja menjadi semakin dekat pada wisatawan. Hal tersebutlah yang membuat kawasan kota Jogja menjadi salah satu destinasi wisata utama baik bagi wisatawan asing maupun lokal.
Kali ini kita akan membahas mengenai salah satu jenis wisata yang bisa kita lalukan di Jogja. Kalian ini kita akan membahas mengenai beberapa tempat wisata sejarah di Jogja. Jenis kegiatan wisata yang satu ini pastinya akan sangat unik dan menarik untuk dilakukan. Jogja memang menyimpan banyak sekali nila sejarah. Ada beberapa lokasi wisata sejarah yang bisa kita kunjungi seperti

1. Benteng Vredeburg

wisata sejarah yogyakarta
Benteng Vredeburg

Wisata sejarah di jogja yang satu ini lokasinya tepat berada di kawasan pusat kota jogja itu sendiri. Bahkan nama dari lokasi wisata yang satu ini sudah banyak diketahui oleh masyarakat banyak. Pastinya kita sudah mengenal dan mengetahui nama Benteng Vredeburg, yang merupakan salah satu dari beberapa tempat wisata di jogja dekat malioboro.
Dilansir dari situsĀ https://828bet.online/ Benteng yang satu ini merupakan benteng yang dibuat oleh Belanda pada saat itu. Pembuatan dari benteng ini sendiri memiliki tujuan utama untuk dapat memberikan efek intimidatif pada Keraton Jogja. Sebelum menjadi nama Benteng Vredeburg, benteng ini memiliki nama asli benteng Rustenberg. Keberadaan benteng yang satu ini memiliki peran yang sangat penting. Tak hanya pada masa kolonialisme penjajahan belanda saja. Namun, pada masa perjuangan kemerdekaan keberadaan dari benteng yang satu ini juga sangat penting. Pada masa penjajahan belanda, benteng ini merupakan markas resmi VOC untuk dapat memata-matai pergerakan dari Keraton. Namun, pada masa perjuangan kemerdekaan benteng yang satu ini menjadi pusat penting.
Benteng ini adalah salah satu markas penting dari Tentara Keamanan Rakyat atau TKR. Pada masa Agresi Militer Belanda II, benteng ini sempat direbut kembali oleh Belanda dan mereka jadikan markas penting. Namun, setelah Belanda mengalami kekalahan benteng ini kembali dikuasai oleh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Benteng yang satu ini memang memiliki nilai sejarah yang cukup tinggi dan tak bisa di anggap remeh. Kita bisa melihat beragam diorama perang dan kelengkapan keprajuritan yang tersimpan rapi di dalam museum. Bahkan kita bisa melihat patung dari ibu Fatmawati yang tengah menjahit Sang Saka Merah Putih.

2. Monumen Serangan Umum Sebelas Maret

wisata sejarah yogyakarta
Monumen Serangan Umum Sebelas Maret

Bangunan yang satu ini merupakan salah satu dari beberapa lokasi wisata sejarah di Jogja yang tak boleh kita lewatkan. Seperti namanya, bahwa monumen yang satu ini didirikan untuk dapat mengenang serangan besar-besaran guna merebut kembali jogja. Serangan tersebut adalah sebuah upaya untuk dapat meyakinkan dunia, bahwa Negara Indonesia masih ada.
Serangan ini sendiri dipimpin oleh salah seorang Bawahan dari Panglima Besar Jendral Soedirman, yaitu Letkol Soeharto. Sedangkan pemrakarsa dari serangan umum tersebut tak lain adalah Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Beliau ingin menunjukan bahwa keadaan Indonesia tak seperti yang disebarkan oleh Belanda.
Karena, pada saat itu banyak pemimpin negara yang telah tertangkap oleh Belanda. Keadaan tersebut kemudian dimanfaatkan Belanda untuk menyatakan bahwa Negara Indonesia sudah tidak ada. Serangan umum tersebut tak berjauhan dari konfrensi Meja Bundar yang menyatakan kedaulatan Indonesia. Monumen ini sendiri di dirikan untuk dapat mengenang jasa setiap pahlawan yang ikut serta dalam penyerangan pada waktu itu. Meskipun tak terlalu lama, namun serangan tersebut memiliki efek yang sangat besar pada sejarah Indonesia.

3. Museum Monumen Jogja Kembali

wisata sejarah yogyakarta
Museum Monumen Jogja Kembali

Sebagai salah satu destinasi tempat wisata di Sleman, museum monumen yang satu ini memang sangat terkenal. Museum yang satu ini tak hanya terkenal sebagai salah satu tujuan wisata sejarah di Jogja saja, namun lokasi ini juga terkenal sebagai salah satu spot foto di jogja yang cukup terkenal. Kawasan wisata yang satu ini dibangun pada tanggal 29 Juni tahun 1985, pembangunan museum ini sendiri bertujuan untuk manandakan keberhasilan perebutan Jogja dari tangan penjajah Belanda pada saat itu.
Peresmian dari museum ini sendiri dilakukan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII. Pemilihan tanggal peresmian tersebut bukan tanpa maksud yang berarti. Pada tanggal tersebut di tahun 1949 merupakan hari dimana pasukan Belanda ditarik secara menyeluruh dari kawasan Jogja. Hal inilah yang membuat Jogja dinyatakan kembali lagi ke Pangkuan Ibu Pertiwi. Bangunan ini sendiri terdiri dari 3 lantai yang memiliki fungsi berbeda-beda.
Pada lantai-lantai tersebut kita bisa melihat barang-barang peninggalan para pejuang waktu itu yang masih tersimpan rapi. Selain itu di pintu masuk museum sendiri, kita akan melihat barisan 422 nama yang terpahat secara rapi. Nama tersebut merupakan nama para pahlawan yang gugur Wehrkreise III (RIS) antara tanggal 19 Desember 1948 sampai dengan 29 Juni 1949. Sebagai salah satu museum unik di Indonesia, maka kalian harus dan wajib mengunjungi lokasi wisata yang satu ini.

4. Museum Perjuangan Yogyakarta

wisata sejarah yogyakarta
Museum Perjuangan Yogyakarta

Museum yang berada di Jl. Kolonel Sugiyono No.24, Brontokusuman, Mergangsan, Kota Yogyakarta, ini merupakan salah satu lokasi wisata sejarah yang cukup menarik untuk dikunjungi. Museum yang dibangun pada tahun 1959 dan di buka pada tahun 1961, ini merupakan sebuah bangunan yang sangat penting nilainya.
Jika kita memasuki bangunan yang satu ini maka, kita bisa melihat beragam koleksi yang memiliki nilai sejarah tinggi. Kebanyakan koleksi di dalam museum yang satu ini terdiri dari beragam benda-benda yang berhubungan dengan masa perjuangan pada masa itu. Mungkin tak banyak yang mengetahuinya, bahwa nama awal dari museum yang satu ini bukanlah Museum Perjuangan Yogyakarta.
Nama awal dari museum ini adalah Monumen Setengah abad kebangkitan Nasional. Selain memiliki nilai sejarah yang cukup tinggi, museum yang satu ini juga memiliki nilai seni yang tinggi. Banyak sekali ukiran dengan berbagai makna bisa kita temukan di lokasi ini. Kawasan ini tentunya akan menjadi sebuah destinasi wisata yang cukup menarik bagi kita. Selain bisa berwisata kita juga bisa menambah pengetahuan dan ilmu mengenai perjuangan kemerdekaan.

Sejarah Perubahan Peraturan Sepak Bola – Tampak Lengkap

Sejarah Perubahan Aturan Sepak Bola Sepak Bola – Pendahuluan

Perlu dicatat bahwa motif utama untuk semua perubahan resmi dalam aturan sepakbola adalah untuk meningkatkan semangat permainan dan membuat gim lebih baik dalam setiap cara yang memungkinkan. Pada dasarnya, kita akan melihat perubahan besar pada abad ke-19 dan abad ke-20. Seperti yang bisa dipahami setelah membaca artikel ini, gim telah mengalami perubahan besar dalam aturannya selama jangka waktu tertentu dan ini akan menjadi proses yang berkelanjutan. Seiring waktu berubah dan eksploit baru ditunjukkan, aturan permainan resmi akan terus berubah baik untuk memperbaiki atau meningkatkan permainan.

Perubahan Aturan Awal

Kita tidak boleh lupa bahwa sepakbola sudah ada ratusan tahun sebelumnya dan orang-orang biasa bermain sepak bola dengan berbagai aturan selama hari-hari awal sepakbola.

Tidak ada aturan umum yang tepat sebelum 1863 untuk mengatur permainan dan perubahan dalam aturan sepakbola sering terjadi selama periode awal. Salah satu dari dua aturan awal yang mendapatkan popularitas adalah aturan Cambridge, pertama kali disusun di Universitas Cambridge pada tahun 1848 dan peraturan Klub Sepak Bola Sheffield, yang dibentuk oleh mantan murid sekolah umum pada tahun 1857.

Selama awal 1860-an, ada peningkatan upaya di Inggris untuk menyatukan dan mendamaikan berbagai pertandingan sepak bola yang dimainkan di sekolah-sekolah umum serta di utara industri di bawah Peraturan Sheffield.

Abad ke-19 Perubahan

Aturan dan peraturan sepakbola seragam pertama dibentuk pada tahun 1863. Aturan Cambridge diambil sebagai basis dan ditulis ulang untuk sampai pada hukum resmi pertama permainan. Pada tahun 1866, hukum offside diubah untuk memungkinkan pemain menjadi onside asalkan ada tiga pemain antara bola dan gawang.

Tahun 1891 adalah tahun yang sangat penting untuk peraturan sepakbola khususnya dan permainan pada umumnya. Aturan mengubah permainan yang disebut "tendangan penalti" pertama kali diperkenalkan ke dalam gim. Tendangan penalti diberikan kepada tim yang melakukan pelanggaran dalam kotak 18 yard, juga disebut kotak penalti. Ini mengubah permainan secara drastis dan menawarkan keuntungan besar bagi tim yang diberikan tendangan penalti.

Perubahan Abad ke-20

Tahun 1925 menyaksikan perubahan besar lainnya dalam aturan "offside" sepakbola. Undang-undang offside yang disusun pada tahun 1866 awalnya memungkinkan pemain untuk onside asalkan ada tiga pemain antara bola dan gawang. Amandemen pada tahun 1925 mengubah angka dari tiga menjadi dua pemain.

Pengganti diizinkan untuk pertama kalinya pada tahun 1958. Tapi ini terbatas hanya untuk seorang penjaga gawang yang cedera dan satu pemain lainnya yang cedera.

Sistem kartu diperkenalkan pada tahun 1970. Sistem kartu merah dan kuning diperkenalkan untuk final Piala Dunia FIFA 1970 sebagai sarana peringatan atau menghukum seorang pemain. Wasit menunjukkan bahwa seorang pemain telah melakukan pelanggaran dan kartu merah mewakili pelanggaran yang lebih serius daripada kartu kuning.

Pada tahun 1990 hukum offside sekali lagi berubah dan kali ini mendukung penyerang. Sesuai perubahan ini dalam hukum, penyerang sekarang dikatakan onside jika dia sejajar dengan bek kedua dari belakang.

Perubahan lain termasuk penjaga gawang dilarang menyerahkan back-pass pada tahun 1992. Area teknis diperkenalkan ke dalam Laws of the Game pada tahun 1994, dengan Official Keempat menyusul tahun berikutnya. Awalnya yang disebut sebagai "Linesmen" berganti nama menjadi "Asisten Referee", pada tahun 1996. Pada tahun 1997, UU tersebut direvisi sekali lagi untuk kemajuan permainan.

Sejarah Cleat Sepakbola dan Evolusinya

Sepak bola adalah gim yang bisa memberi Anda Goosebumps. Setiap pengagum sepakbola juga memiliki pemain favorit yang membuat game ini layak untuk ditonton. Masing-masing dan setiap pemain menempatkan dalam jumlah yang tak terhitung ke dalam permainan dan karena upaya ini untuk membuat tim menang masing-masing dan semuanya harus dipraktekkan. Untuk berlatih Anda perlu cleat sepak bola yang tepat karena mereka menjadi salah satu bagian tak terpisahkan dari proses ini. Cleat telah berusaha untuk hadir pada tahun 1500-an. Cornelius Johnson adalah cleatmaker pertama yang berusaha menjadikan mereka untuk Raja Henry VIII pada tahun 1525. Mereka dirancang khusus dengan menjaga permainan dalam pandangan dan bahan terbuat dari kulit yang membuat mereka berat. Ini berbeda dari yang normal karena mereka panjang pergelangan kaki.

Ketika permainan mulai berkembang di negara ini permintaan untuk sepakbola juga mulai meningkat pada 1800-an. Para pemain menuntut sesuatu yang nyaman dan dirancang dengan pahit. Ini adalah waktu ketika pergelangan kaki menjadi kurang populer dan 'gaya sandal' tradisional menjadi mode. Mereka kemudian diberi 6 kancing di bagian bawah, terbuat dari bahan kulit dan mereka terbiasa mendapatkan berat saat hujan. Namun pola ini diterima hingga tahun 1900-an.

Industri melihat booming lagi setelah Perang Dunia II ketika perjalanan udara menjadi menonjol dan pertandingan internasional mulai digelar. Ini menyebabkan tingginya permintaan pembuatan untuk anggota tim. Fokus bergeser untuk menyediakan para pemain dengan bahan yang nyaman dan dirancang dengan baik yang membantu pemain dalam menendang dan mengendalikan bola sepak. Bobot itu juga menurun saat cleat berat ringan mulai trending.

Evolusi menyebabkan kategori berikut yang pemain dapat memilih untuk bermain sepak bola:

Tanah lunak dan pro tanah lunak:

Ini memungkinkan pemain untuk bermain di medan berlumpur dan lahan basah. Juga kancing ini dilengkapi dengan attachment serta kapasitas yang bisa dilepas. Pemain dapat melampirkan mereka jika kebutuhan dirasakan dan dapat menghapus sesuai dengan tempat di mana pertandingan berlangsung.

Pro cleat yang lembut sangat membantu pada bidang berlumpur dan lahan basah di mana traksi maksimum diperlukan. Mereka adalah cleat tradisional.

Rumput Buatan / Tanah Keras:

Dibangun di atas tanah yang terbakar matahari atau rumput buatan baru, ini datang dengan lebih banyak dukungan stud dan ini membuat mereka lebih baik.

Dalam

Ini digunakan untuk permainan dalam ruangan luang.

futsal

Ini dirancang untuk pemain yang bermain cepat dan permainan sepak bola lima sisi.

Artificial Surf

Ini dirancang untuk bermain di permukaan yang keras. Mereka datang dengan sol karet atau plastik di bagian bawah.

Cleat Sepakbola Putri:

Dibangun di atas cetakan yang lebih pendek atau pas, cleat sepak bola wanita dibangun dengan mengingat dimensi kaki wanita. Mereka dibangun untuk memberikan para wanita dengan kenyamanan maksimal dan tidak memilih cleat sepakbola pria jika mereka bermain sepak bola.

Sejarah Dressing Dressing

Definisi

Untuk keperluan artikel ini mungkin berguna untuk memulai dengan beberapa definisi dari berbagai deskriptor yang paling sering digunakan ketika mengacu pada jubah yang dikenakan di sekitar rumah sebagai loungewear:

Jubah

Kata bahasa Inggris 'robe' diambil dari kata Inggris tengah dengan nama yang sama yang berarti 'pakaian', kata 'jubah' memiliki rute dalam bahasa Frank sebagai 'rouba'. Diperkirakan berasal dengan arti 'rampasan' atau 'rampasan' yang mengacu pada barang dan pakaian yang dicuri dan terkait dengan kata 'rob'. Kata ini diadopsi oleh bahasa Perancis Kuno untuk awalnya mengacu pada 'rampasan' atau 'rampasan' yang sama namun maknanya telah berkembang hingga hari ini untuk sekarang mengacu pada 'baju wanita'.

Titik perbedaan antara jubah dan barang-barang serupa seperti jubah dan tanjung adalah lengannya.

Jubah mandi

Jubah mandi dibuat menggunakan kain penyerap, paling sering handuk terry, ini memiliki manfaat pengeringan tubuh setelah mandi. Jubah mandi melayani dua manfaat; sebagai handuk, menyerap kelembapan setelah mandi dan sebagai pakaian garmen informal, untuk dikenakan di sekitar rumah setelah bangun di pagi hari selain memakai di malam hari setelah mandi.

Dressing Gown

Gaun tidur adalah istilah yang secara tradisional dikaitkan dengan pakaian pria. Dressing gowns adalah jubah terbuka longgar yang biasanya ditutup dengan sabuk kain di pinggang, lebih banyak lagi yang akan datang!

Hoskut

Meskipun biasa dilakukan, gaun ganti tidak harus bingung dengan pakaian rumah, ini adalah barang yang sangat populer di tahun 1940-an. Juga dikenal sebagai kain lap, mantel rumah adalah pakaian yang sangat berguna; panjangnya lebih panjang daripada celemek dan lebih sederhana dalam cakupannya daripada pinafore. Pada saat para wanita jarang meninggalkan rumah mereka tanpa mencari yang terbaik mereka, mantel rumah adalah cara yang sempurna untuk melindungi pakaian terpilih hari itu, wanita hanya akan beralih ke pakaian rumah mereka untuk melakukan tugas-tugas harian mereka.

Housecoats bervariasi dalam gaya tetapi biasanya panjang lutut atau lebih untuk menutupi pakaian bawah, mereka terbuat dari kain ringan yang kadang-kadang berlapis untuk kehangatan. Pakaian rumah akan kencangkan di depan dengan salah satu tombol atau ritsleting.

Penggunaan baju hangat berevolusi dari waktu ke waktu, menjadi lebih elegan, canggih dan feminin dalam bentuk, banyak wanita mulai mengenakan mantel rumah mereka di malam hari, bahkan ketika menjadi tuan rumah tamu, pakaian rumah mengambil peran yang sama dengan 'gaun ganti pria'.

Baru-baru ini, housecoat telah menjadi istilah yang agak kuno yang jarang digunakan. Sebagian besar orang lebih memilih untuk beradaptasi dengan istilah gaun ganti sebagai unisex untuk jubah rumah pria dan wanita. Pada jajak pendapat baru-baru ini yang dijalankan oleh thestudentroom.co.uk, 91% responden pria dan wanita lebih suka menggunakan istilah gaun ganti.

The History of the Dressing Gown

Diperkirakan bahwa mengenakan gaun rias di dunia barat memiliki rute pada pertengahan abad ke-17, awalnya hanya dipakai oleh pria dan itu disebut 'banyan'. Istilah 'banyan' mencakup banyak gaya jubah yang berbeda yang populer di kalangan pria antara pertengahan abad 17 hingga awal abad ke-19.

Eropa mulai mengadopsi gaya berpakaian dan pengaruh dari budaya lain di awal abad 17 dan beringin adalah contoh paling awal dari ini. Diperkirakan bahwa pria mengadopsi desain 'banyan' dari pakaian terinspirasi Persia dan Asia (Banyan dalam bahasa Portugis, Arab dan Gujarati semuanya berarti 'pedagang').

Pada saat pertengahan abad ke-17 kegemaran yang populer untuk eksotis dan oriental telah menjadi daya tarik utama di Eropa. Ini bertepatan, dan dapat dikaitkan dengan, memperkuat rute perdagangan dengan Timur. Gaya Chinoiserie muncul sebagai mode populer. Istilah Perancis yang berarti "Esktra Tiongkok" telah menjadi tema yang berulang dalam gaya artistik Eropa. Chinoiserie mencerminkan pengaruh artistik Cina. Kegemaran ini untuk eksotis dan oriental adalah pengaruh utama pada keberhasilan 'banyan', nama ini menjadi pendahulu dari 'baju ganti'.

Juga digambarkan dalam teks sebagai gaun pagi, jubah de chambre atau baju tidur, banyan adalah jubah panjang lantai yang longgar. Gaya beringin di tahun 1800-an adalah desain kimono bergaya 'T-shape' sederhana seperti yang terlihat di bawah ini. Banyan biasanya diproduksi dari kain India Chintz impor meskipun kadang-kadang terbuat dari sutra Cina dan Perancis juga.

The banyan dikenakan di sekitar rumah sebagai mantel informal yang paling sering dipakai di atas kemeja dan celana. Pohon beringin itu biasanya dipasangkan dengan topi lembut yang menyerupai sorban yang dikenakan di tempat periun formal, wig yang sangat populer dipakai oleh pria pada abad ke-17 dan 18. Selama abad ke-18 itu modis untuk pria, terutama dari intelektual persuasi filosofis untuk memiliki potret mereka menugaskan dan dicat sementara mengenakan banyans atau gaun pagi mereka:

'Gaun longgar berkontribusi pada latihan pikiran yang mudah dan penuh semangat. Pernyataan ini sangat jelas, dan begitu umum diketahui, bahwa kita menemukan pria rajin selalu dilukis dalam gaun, ketika mereka duduk di perpustakaan mereka. '

(Benjamin Rush, Pendiri Ayah dari Amerika Serikat. 'Franklin and Friends', 2006)

Belakangan, beringin berevolusi menjadi gaya yang lebih pas dengan set-in sleeves yang mirip dengan jas pria. The banyan dibuat tersedia dalam berbagai ukuran dan bentuk berbeda dengan potongan dan gaya yang berbeda. Setelah abad ke-19, nama 'banyan' juga berevolusi menjadi 'baju ganti' hari ini.

Wanita dan The Dressing Gown

Semua pembicaraan tentang pria dalam gaun ganti ini baik-baik saja tetapi saya mendengar Anda bertanya – jadi bagaimana dengan wanita dan gaun ganti?

Sementara pria di Eropa dengan cepat mengadopsi dan menggabungkan tekstil dan pakaian Asia dan Asia yang terinspirasi tidak sampai akhir abad ke-18 bahwa fashion wanita akan dipengaruhi. Pada saat ini aksen kecil seperti selendang atau kipas dan itu akan menjadi 100 tahun lagi sampai wanita di Eropa akan mulai mengenakan pakaian dari budaya lain seperti kimono dan jubah Cina.

Ada sedikit yang menyebutkan dalam buku-buku sejarah tentang wanita yang mengenakan jubah meskipun kita tahu bahwa mereka memang mengenakan pakaian yang setara dengan gaun ganti meskipun jauh lebih sederhana dalam gaya dan kain untuk pria beringin. Dalam studinya tentang gaya Perancis Bourgeoisie abad ke-19 Philippe Perrot mengamati:

'Gaun rias merupakan perpecahan yang aneh antara pria dan wanita. Pria itu mempesona dan wanita-wanita itu menjemukan. '

('Memperjelas Borjuis' oleh Philippe Perrot, 1981).

Barangkali 'kekeruhan' ini menjelaskan mengapa ada sedikit yang ditulis dalam buku-buku sejarah gaya dan mode untuk mencatat gaun rias perempuan. Kurangnya minat historis pada perempuan yang setara dengan gaun ganti terus berlanjut di buku-buku sejarah sampai abad ke-19. Untungnya hal-hal telah berubah dan para wanita sekarang memiliki banyak sekali gaun-gaun yang indah dan mewah untuk dipilih.